Minggu, 10 November 2013

Mahasiswa Pencinta Alam Kompas USU


" Berpetualang Sambil Pungut Sampah di Atas Gunung"


Tidak selamanya menjadi mahasiswa itu harus belajar di dalam kelas, membaca buku dan mendengarkan dosen mengajar, namun menjadi mahasiswa juga bisa belajar melalui alam. Berawal dari hobi mendaki gunung dan menjelajahi hutan, korps mahasiswa pencinta alam dan studi lingkungan (Kompas) Universitas Sumatera Utara di bentuk guna menyalurkan hobi sang petulang.

Keinginan untuk bergabung menjadi mahasiwa pencinta alam (Mapala) harus di dasari dengan rasa syukur atas anugrah atas ciptaan Tuhan,  karena telah menciptakan berbagai macam pesona alam yang dapat di nikmati, sudah selayaknya kita sebagai manusia di bumi dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga dan merawatnya. Keindahan alam itu dapat berupa pegunungan, hutan, sungai, gua, dan masih banyak lainnya.

Sejak terbentuk pada Oktober 1980, Kompas USU berusaha menjaga prinsip tersebut, sehingga sampai sekarang melahirkan generasi generasi yang peduli lingkungan dan tetap konsisten mengkampanyekan kesadaran manusia untuk tidak merusak alam dengan segala flora dan fauna di dalamnya.

Ketua Kompas USU, Ahmad Fauzi menceritakan tentang awal keinginannya untuk bergabung di dasari dengan hobinya berpetualang dan mencari sesuatu hal yang baru yang belum pernah di temukan oleh orang banyak.

“Awalnya saya berkeinginan masuk karena hobi mendaki gunung, namun seiring berjalannya waktu saya sering naik gunung, saya melihat banyak orang yang hanya suka naik gunung namun tidak menjaga lingkungan gunung seperti buang sampah plastik dan kaleng makanan” ujar Fauzi.

Ungkapan kegelisahan ini terbukti saat pengalaman Fauzi bersama rekan rekan Kompas USU yang lain pada setiap pelaksanaan hari lingkungan hidup melakukan gerakan bersama bersih bersih gunung Sibayak,  dengan memunguti sampah yang sengaja di buang orang sembarangan di atas gunung, alhasil puluhan goni plastik pernah mereka kumpulkan.

Fauzi menambahkan, kurangnya kesadaran masyarakat yang mendaki gunung menjadi penyebab utama kotornya lingkungan di gunung, seperti yang terjadi di gunung Sinabung, Sibayak, Sibuatan yang letaknya masih di kabupaten Karo. Sampah sampah tersebut umumnya sampah plastic dan kaleng yang sengaja di bawa orang ketika hendak naik gunung sebagai perbekalan di atas. Selain itu juga berdasarkan observasi Kompas USU, banyaknya hutan di gunung telah di tebang bahkan polisi kehutanan setempat tidak mengetahuinya.

“Sebagai orang yang cinta kepada alam, pada saat menjelajahinya kami punya prinsip yakni seorang penjelajah jangan meninggalkan apapun selain jejak kaki, jangan ambil apapun selain gambar dan jangan bunuh apapun selain waktu” pungkas mahasiwa Fakultas Pertanian USU ini.

Fauzi yang sudah naik gunung lebih dari 20 kali ini menuturkan, prinsip tersebut seyogyanya di patuhi pada setiap orang yang ingin menjelajahi alam tidak hanya di gunung bahkan di gua sekali pun. 

Kompas USU sendiri kegiatannya tidak hanya mendaki gunung namun juga melakukan penelitian dan pengamatan  terhadap keaneka ragaman flora dan fauna yang ada di gunung bahkan di gua, seperti yang barusan di teliti yakni Kompas USU melakukan pengamatan perkembangan tumbuhan sejenis jamur di gunung Sibuatan kabupaten Karo selain itu juga diajak untuk  bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Hal yang paling sederhana untuk menjaga lingkungan yakni tidak membuang sampah sembarangan, minimal jangan merusaknya kalau tidak mampu menjaganya karena berbagai macem hewan dan tumbuhan yang hidup disana sangat bergantung pada kondisi lingkungan.

“Kami tetap konsisten mengkampayekan kepada setiap orang untuk jangan membuang sampah ke gunung dan kepada anggota Kompas di wajibkan memungut sampah saat mendaki gunung,  karena kitalah yang harus nya menjaganya, dengan menjaga alam sesungguhnya kita dapat belajar mencintai negri ini dengan sungguh sungguh” ujar Fauzi kembali. 

Agenda kedepan fauzi bersama tim Kompas USU yang lain akan kembali melakukan gerakan bersih bersih gunung Sibayak pada awal Juni mendatang dengan melibatkan 500 an orang peserta yang akan memungut sampah di kawasan gunung tersebut. Rholand Muary

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Sumut Paten” dalam Analisa Wacana Kritis

Sumut Paten, kini sudah menjadi jargon politik dan ciri khas dari Gubernur Sumatera Utara, Ir. HT. Erry Nuradi, M.Si. Dalam berbaga...