Minggu, 17 November 2013

Fashion Desainer dan Peluang Usaha.


" Bisnis Menggiyurkan"

Perhelatan Miss World 2013 yang lalu menjadi daya tarik sendiri bagi perancang tata busana (desainer)  muda asal Indonesia untuk merancang gaun para kontestan untuk di tampilkan di ajang bertaraf internasional ini. Berkat kegigihan serta kompetensi yang di miliki dari masing masing perancang ,130 kontestan dari berbagai negara ikut memuji dan mendapatkan tempat di hati para kontestan dari hasil karya desainer asal Indonesia.

 
Beranjak dari sana, pertumbuhan fashion design di berbagai Kota di Indonesia di harapkan terus meningkat dan berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman , agar cipta karya anak bangsa dalam bidang busana fashion  tidak kalah ketinggalan dengan desiner desainer ternama dari luar negeri. Sekaligus juga sebagai ajang mempromosikan kebudayaan bangsa Indonesia. Lantas bagaimana perkembangan fashion di kota Medan?

Perkembangan fashion di kota Medan sendiri masih dapat di katakan kalah pamor dengan perkembangan fashion di kota kota lain di Indonesia, seperti di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Meskipun begitu, tidak sedikit pula, desainer ternama di ibu kota awalnya banyak merintih karir di kota Medan. Salah satu gudangnya untuk menciptakan desainer di kota Medan yakni berasal dari kampus Universitas Negeri Medan yang memilki program studi (Prodi) Tata Busana di bawah naungan fakultas teknik. 

Sejak didirikan pada tahun 1974, Prodi ini telah banyak menghasilkan lulusannya yang sejalan dengan disiplin ilmu yang di pelajari di kampus, adapun visi misi dari program studi ini yakni mempersipakan lulusannnya menjadi guru tata busana yang profesional baik itu dalam pendidikan formal maupun non formal serta mewirausahakan bidang tata busana atau dengan kata lain mencetak desainer muda yang berbakat.

Ketua Prodi Tata Busana Unimed, Nurmaya Napitupulu mengatakan minat masyarakat untuk perkembangan fashion tata busana semakin lama semakin meningkat, hal ini di tandai dengan animo mahasiswa baru yang masuk ke prodi tata Busana tiap tahunnya semakin meningkat, tidak hanya perempuan namun dari pria juga ada pertambahan.

“ Minat masyarakat untuk perkembangan tata busana semakin meningkat, menurut saya ini karena trend fashion juga ikut berkembang dan punya peluang usaha yang menjanjikan” ujar Nurmaya 
Nurmaya mengakui sebelumnya, mayoritas peminat jurusan tata busana ini berasal dari siswi sekolah kejuruan, namun sekarang sudah berimbang dengan lulusan sekolah umum. Tak heran juga peminat dari kejuruan ini di jadikan sebagai second class, namun berkat dukungan oleh pemerintah, kejuruan sekarang menjadi prioritas untuk menghasilkan lulusan yang siap pakai di dunia kerja dan usahawan. Maka tidak sedikit lulusan tata busana yang akhirnya menjadi guru serta membuka usaha sendiri baik itu membuka butik atau usaha konveksi. 

“ Untuk tata busana di Unimed ini ada tiga konsentrasi ilmunya yakni, desainer, produksi dan handycraft dan semuanya saling bersinergi untuk membentuk kompetensi ilmunya  ” katanya.

Untuk memamerkan hasil karya mahasiswa tata busana Unimed ini, setiap tahunnya kampus Unimed menggelar ajang pameran dan peragaan busana yang di tampilkan kepada seluruh mahasiswa Unimed dan juga masyarakat banyak, agar tata busana itu tidak dipandang sebelah mata, karena juga memerlukan skill dan kompetensi yang ikut disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Bagi nurmaya sendiri, berbusana itu tidak hanya sekedar memakai pakaian namun juga menunjukkan kepribadian.

“ Berbusana itu, berhubungan dengan kepribadian, jadi bagaimana busana yang di pakai itu membuat pribadi kita nyaman , serta tampil percaya diri” kata ibu yang sudah mengabdi selama 34 tahun ini.

Mengenai tata busana daerah di Sumut sendiri, Nurmaya juga mengakui masyarakat sudah banyak kehilangan pengetahuan tentang busana asli daerah yang umumnya di gunakan untuk acara acara adat seperti pernikahan, pesta dan lain sebagainya yang saat ini telah banyak di modifikasi, maka dari itu dirinya pun menuntun mahasiswa untuk menciptakan busana tidak hanya berkiblat pada ibu kota dan  luar negeri melainkan juga mengetahui asal usul busana daerah sendiri. 

“ Sumatera Utara itu berbagai macam suku budayanya, maka berbagai macam pula busana daerah yang dimiliki, pengetahuan tentang busana daerah juga penting agar kebudayaan kita tidah hilang “ katanya.

Begitu juga di sampiakan oleh Dosen Tata Busana Unimed sekaligus desainer kota Medan, Nining Tristanty yang mengatakan perkembangan fashion desainer di kota Medan masih banyak di pengaruhi oleh perkembangan fashion dari ibu kota, hal ini di karenakan, kota Medan sendiri belum memberikan media yang serius untuk memamerkan hasil karya desainer asal kota Medan sendiri.

“ Kalau di Jakarta, Bandung itu kan ada pergelaran terbuka sendiri seperti pentas karnaval di jalan serta ada juga fashion show yang rutin di gelar, jadi ada medianya untuk desainer untuk mengasah bakat yang akan di tampilkan dalam ajang yang bergengsi” kata Nining.

Untuk kota Medan sendiri, Nining belum melihat ada perkembangan yang signifikan untuk memamerkan produk produk desainer muda asal kota Medan, sehingga banyak di peruntukkan untuk usaha pribadi masing masing. Hal ini juga membuat perkembangan desainer kota Medan belum muncul kepermukaan di bandingkan desainer kota kota lain.

“ Kalau saya melihat, desainer kota Medan ini punya bakat tidak kalah dengan yang lain , namun belum ada saja salurannnya untuk berekpresi di ruang yang lebih luas agar  di pamerkan hasil karyanya kepada masyarakat banyak ” kata Nining yang juga punya sekolah desainer d Medan ini.

Menurut Nining, hal ini tidak terlepas dari pemerintah untuk lebih peduli terhadap perkembangan desainer di sumut dan Medan khususnya dengan memberikan ruang sendiri untuk memamerkan hasil karya cipta busana , bukan hanya sebagai memoentum pelengkap atau sebagai ajang pameran yang sifatnya seremonial saja serta menagment tidak terkonsep dan tidak terbuka 

“ Jika pemerintah daerah serius peduli dengan perkembangan desainer, saya optimis Medan juga akan menjadi kiblat fashion tidak hanya Jakarta dan bandung” ucapnya.

Maka dalam mewujudkan hal tersebut, di perlukan kepedulian pemerintah, serta organisasi yang menaunginya yakni Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), perguruan tinggi untuk saling bekerja sama mewujudkan dunia fashion di kota Medan.

Sementara itu, Salah seorang mahasiswa Tata busana Unimed, Yulita Sarikoto menjelaskan, awalnya dirinya tidak tertarik untuk memasuki jurusan tata busana Unimed karena pilihan pertamanya adalah Akuntansi, 

“ Awalnya saya gak begitu tertarik dengan jurusan tata busana, karena saya ingin jadi akuntan” kata Yulita yang juga keder HMI FT Unimed ini. 

Karena tidak tertariknya dengan jurusan ini, Yulita pun sempat berniat untuk pindah kuliah di kampus lain, namun setelah di jalanin dan memiliki bakat , dirinya mulai suka dan serius menekuni bidang tata busana.

“Saya jadi pengen desainer, karena punya peluang bisnis yang menjanjikan, dan Alhamdulillah, cita cita saya juga di dukung oleh keluarga” kata mahasiswa semester 5 ini.
Untuk inspirasinya mendesain busana, Yulita banyak belajar pada perkembangan fashion dari internet serta membaca majalah fashion. Jika ada masyarakat yang ingin di desainkan bajunya, Yuli dengan percaya diri mengatakan mampu.

“Kalau ada yang pengen di buatkan baju, saya sudah bisa buatkan” tuturnya.
Rholand Muary

2 komentar:

  1. saya membutuhkan penjahit khusus MEDAN. tempat tinggal dan makan saya tanggung. saya membutuhkan yang bisa bekerjasama dan amanah. jika minat silahkan hubungi 081397081300 (lytha)

    BalasHapus
  2. untuk lulusan tata busana dari unimed ada yang ke luar negeri ngak??

    BalasHapus

“Sumut Paten” dalam Analisa Wacana Kritis

Sumut Paten, kini sudah menjadi jargon politik dan ciri khas dari Gubernur Sumatera Utara, Ir. HT. Erry Nuradi, M.Si. Dalam berbaga...